startMiner - free and simple next generation Bitcoin mining software

BALAI PENYELIDIKAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI KEBENCANAAN GEOLOGI (BPPTKG)



MerapiNews.com.-Dasar Hukum: Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 11 tahun 2013

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi merupakan unit pelaksana teknis (UPT) setingkat eselon III yang berada di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Tugas BPPTKG:
Melakukan penelitian, penyelidikan, pengembangan metode teknologi dan instrumentasi, pengelolaan sarana dan prasarana laborratorium kebencanaan geologi serta mitigasi dan penyelidikan G. Merapi

Fungsi BPPTKG:
Penyusunan rencana dan program serta pengelolaan kerjasama dan informasi
Pelaksanaan mitigasi bencana G. Merapi
Pemberian rekomendasi penetapan tingkat aktivitas dan rekomendasi teknis mitigasi G. Merapi
Pelaksanaan penelitian, penyelidikan dan pengembangan metode, teknologi dan instrumentasi kebencanaan geologi
Pengelolaan laboratorium kebencanaan geologi
Pengelolaan sarana dan prasarana
Pelaksanaan ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga


Silahkan Kunjungi situs Resmi untuk mengetahui informasi Tentang Gunung Merapi disini

JALIN MERAPI



MerapiNews.com.-Jaringan Informasi Lingkar Merapi (JALIN MERAPI) berupaya menyajikan data dan informasi perkembangan Gunungapi Merapi dan dinamika masyarakatnya. Informasi JALIN MERAPI berasal langsung dari lapangan dan digali langsung dari dan oleh masyarakat setempat bersama jaringan relawan. Jaringan ini telah terbangun sejak tahun 2006, yang digagas bersama oleh tiga radio komunitas di Kemalang, Klaten (Lintas Merapi FM), Selo, Boyolali (MMC FM), dan Dukun, Magelang (K FM), bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat yang menaruh perhatian pada isu informasi dan komunikasi di lingkar Merapi. Pada masa tanggap darurat Merapi di tahun 2010, JALIN MERAPI memperkuat dirinya dengan terlibatnya lebih banyak pihak yang bekerja bersama dalam jaringan dan dukungan pemanfaatan teknologi informasi yang lebih tepat guna. Pada tahun 2011 JALIN MERAPI telah memiliki tambahan dua simpul radio komunitas, yakni di Salam, Magelang (Lahara FM) dan di Cangkringan, Sleman (Gema Merapi FM). Pada tahun berikutnya, radio komunitas di Merapi bertambah dengan hadirnya Gema Swara FM di Srumbung, Magelang, serta Gemi Nastiti FM dan Merapi FM di Musuk, Boyolali.
JALIN MERAPI menggunakan beragam media untuk menyampaikan data dan informasi penting dan terkini untuk mendukung proses pengambilan keputusan atau tindakan secara cepat dan tepat. JALIN MERAPI dapat diakses melalui website, situs jejaring sosial Twitter dan Facebook, SMS Gateway, radio komunikasi, telepon, dan beragam kegiatan tatap muka di lapangan.
JALIN MERAPI pada periode pendiriannya sejak tahun 2006 didukung oleh beberapa organisasi, meliputi COMBINE Resource Institution, KOMPIP, Forum Rakyat Boyolali (Forabi), Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Yogyakarta,  Jaringan Radio Komunitas Yogyakarta, dan Jaringan Radio Komunitas Jawa Tengah.
JALIN MERAPI pada periode 2010 – 2011 didukung oleh COMBINE Resource Institution, Jaringan Radio Komunitas Jawa Tengah, IDEA, Gender Working Group, Koperasi Wanita SETARA Klaten, Rumah Pelangi, Yayasan AirPutih, Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta, dan beragam lembaga serta kelompok relawan yang tersebar di lingkar Merapi.
JALIN Merapi kini telah beranggotakan 8 radio siaran komunitas dengan dukungan kerja bersama dari berbagai pihak. Jejaring masyarakat pegiat media komunitas ini terus didukung penguatan kapasitas pengetahuannya oleh COMBINE Resource Institution (CRI), Merapi Recovery Response UNDP, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dan berbagai lembaga dan kelompok relawan yang bergiat di Merapi. Sejak tahun 2012, salah satu dukungan penguatan kapasitas pengetahuan dan manajemen radio komunitas didukung oleh tim Radio Komunitas FMYY dari Kobe, Jepang.
Inisiatif JALIN Merapi mendapatkan perhatian positif dari komunitas di dalam dan luar negeri. Pegiat JALIN Merapi aktif dalam beragam kegiatan bersama di forum lokal-nasional, seperti dalam PASAG Merapi, Forum Pengurangan Risiko Bencana Provinsi D.I. Yogyakarta, dan sebagainya. Pada forum internasional, pegiat JALIN Merapi juga aktif terlibat dalam beragam pertemuan berbagi pengalaman dan ilmu. Pada tahun 2008, JALIN Merapi memberikan presentasi dalam Lokakarya Internasional AMARC Asia Pasifik tentang Radio Komunitas dan Pengurangan Risiko Bencana di Yogyakarta. Tahun 2009, Radio Komunitas Lintas Merapi FM (sebagai bagian dari JALIN Merapi) menjadi salah satu lokasi lokakarya pembuatan Disaster Management Audio Material (DMAM) bersama tim CRI dan FMYY Jepang. Perwakilan radio komunitas anggota JALIN Merapi mengikuti pertemuan regional AMARC Asia Pasifik di Bangalore, India (2010) dan di Bangkok, Thailand (2011). Pada Juli 2013, Koordinator JALIN Merapi Sukiman memberikan presentasi di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) The 2013 ECOSOC Humanitarian Affairs Segment di Geneva, Swiss. Awal 2014 di bulan Januari, tim JALIN Merapi memberikan presentasi dalam sebuah seminar di JICA Kansai, Jepang.
JALIN Merapi bersifat terbuka bagi inisiatif dan kolaborasi bersama para pihak untuk terus belajar dan bekerja bersama untuk keselamatan dan kelestarian hidup masyarakat Merapi.
Pengurus JALIN Merapi:
Koordinator: Sukiman Mochtar Pratomo (Radio Komunitas Lintas Merapi FM – Klaten)
Sekretaris: Muhammad Sodiq Asnawi (Radio Komunitas K FM- Magelang)
Bendahara: Mart Widarto
Administrator Media Online:
Adriani Zulivan
Akhmad Nasir
Elanto Wijoyono
IT Support:
Tim Teknologi Informasi COMBINE Resource Institution

sumber : www.jalinmerapi.net

Tentang Merapi



MerapiNews.com.-Merapi (ketinggian puncak 2.968 m dpl, per 2006) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatanberada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004.

Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh pemukiman yang sangat padat. Sejak tahun 1548, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali. Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat pemukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini, Merapi menjadi salah satu dari enam belas gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini (Decade Volcanoes).

Geologi
Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.

Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya. Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 - 8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000 - 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas. Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1-2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra.

Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.

Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara "signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma. Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan debu vulkanik. Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010, diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama.

Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang. Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872 dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010), meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20-30 km.

Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.
  • Erupsi 2006
Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.

Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi.
1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini.

8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09:40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.
  • Erupsi 2010
Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.

Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan.

Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB. Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah.

Namun demikian, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor.

Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus "awas" (red alert).
Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km.

Vegetasi
Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika.
Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.

Rute pendakian
Gunung Merapi merupakan obyek pendakian yang populer. karena gunung ini merupakan gunung yang sangat mempesona. Jalur pendakian yang paling umum dan dekat adalah melalui sisi utara dari Sèlo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Tlogolele. Desa ini terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pendakian melalui Selo memakan waktu sekitar lima jam hingga ke puncak.

Jalur populer lain adalah melalui Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta di sisi selatan. Jalur ini lebih terjal dan memakan waktu sekitar 6-7 jam hingga ke puncak. Jalur alternatif yang lain adalah melalui sisi barat laut, dimulai dari Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dan melalui sisi tenggara, dari arah Deles, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

Spot Yang Harus Kamu Datangin Bila Berwisata di Lereng Merapi.


MerapiNews.com.-Akhir pekan ini kamu pergi kemana? Pernah terpikir untuk wisata Lava Tour Merapi di Jogja? Buat kamu yang ingin berwisata di lereng Merapi bisa mengikuti tour yang tersedia, tapi tidak ada salahnya jika mencoba menguji adrenalin dengan mengendarai trail dengan dipandu guide selama explore beberapa tempat di kaki Merapi tersebut.
Berburu sunrise dan berpetualang di lereng Merapi menjadi salah satu destinasi favorit, terutama bagi wisatan mancanegara. "Kalau wisatawan mancanegara banyak yang berburu sunrise, meskipun nggak banyak tapi tiap hari pasti ada. Wisatawan lokal selalu ada, apalagi akhir pekan tentunya lebih rame," kata Anita (22) salah satu pemandu wisata di Jogja kepda brilio.net, Jumat (9/10).
Berikut brilio.net rangkum beberapa spot yang harus kamu datangin bila berwisata di lereng Merapi.
1. Tlogo Putri Kaliurang
Obyek Wisata Tlogo Putri terletak di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tlogo Putri terletak di kawasan lereng selatan Merapi dan satu kompleks dengan Bukit Plawangan Turgo dan hutan yang dikelola Perhutani. Terdapat juga jalur tracking dengan berjalan kaki memasuki hutan dengan menyusuri jalan setapak sampai akhirnya sampai di objek wisata Kaliadem atau Kalikuning, Watu Kemloso atau di Air terjun Tlogo Muncar.
Kamu bisa menyaksikan pertunjukan seni gratis di tempat ini. Seni yang digelar secara bergantian yang menampilkan grup-grup kesenian seperti jathilan, campur sari, topeng ireng, kubro siswo, orkes melayu, dangdutan, pentas di sebiah panggung yang berada di Tlogo Putri.
2. Museum Gunung Merapi
Kamu pingin lebih tahu tentang Merapi? Datang aja ke Museum Gunung Api Merapi (MGM) di Jalan Boyong, Dusun Banteng, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Museum ini menjadi geo-wisata dan menjadi wahana edukasi konservasi yang berkelanjutan serta pengembangan ilmu kebencanaan gunung api, gempa bumi, dan bencana alam lainnya. Lokasi MGM terletak di kawasan lereng Merapi.
3. Kali Opak
Sungai ini berhulu di lereng Gunung Merapi sebelah selatan dan merupakan sungai yang dilewati lahar dingin sesudah erupsi Gunung Merapi. Jika kamu memilih jalur semi ekstrem, kamu bisa melalui tengah Kali Opak yang hanya bisa dilewati dengan jeep dan motor trail.
4. Dusun Petung
Bekas perkampungan ini masuk dalam Desa Kepuharjo dan terletak di antara dua sungai yang dilalui lahar merapi tahun 2010, Sungai Gendol dan Sungai Opak. Dusun Petung merupakan salah satu pemukiman yang mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi dan hancur oleh keganasan dari erupsi Merapi, sehingga kamu masih dapat melihat puing–puing bekas rumah penduduk yang hancur akibat erupsi.
5. Batu Alien
Kamu percaya alien? Nah, ketika kamu berwisata di lereng Merapi bakal ada batu alien. Batu unik seperti wajah manusia dengan ukuran yang sangat besar, terletak di pinggir Sungai Gendol dan masuk di Dusun Jambu. Batu ini menurut kepercayaan masyarakat setempat mempunyai kekuatan magis.

6. Dusun Kaliadem




Ketika kamu mengunjungi dusun ini, memori kedahsyatan erupsi Merapi 2006 dan 2010 bakal kembali teringat. Di sini kamu bisa melihat banyak fenomena yang merupakan sisa dari hasil erupsi Merapi, seperti bekas batu gajah, gapura pemantauan, area yang masih mengeluarkan asap dan bau belerang, view Kota Yogyakarta dan sekitarnya dari lereng Merapi, view Gunung Merapi yang terletak hanya 5 kilometer dari puncak.
7. Makam Mbah Maridjan
Tokoh ini sangat terkenal di Indonesia, kamu tentunya sangat familiar dengan nama Mbah Marijan. Juru Kunci Gunung Merapi yang menjadi salah satu korban dari ganasnya erupsi Gunung Merapi tahun 2010 di Dusun Srunen, Desa Kepuharjo Cangkringan.
8. Bukit Glagahsari
Terletak di sebelah utara Makam Mbah Maridjan dan Dusun Srunen, di sana kamu dapat menikmati keindahan Gunung Merapi dari jarak yang sangat dekat. Kamu juga dapat menikmati keindahan Jogja dan Klaten dari lereng Merapi
9. Dusun Jambu
Dusun Jambu terletak antara Sungai Gendol dan Sungai Opak. Pada saat terjadi erupsi Merapi tahun 2010 dusun ini dilalui lahar panas yang sehingga tertutup oleh batu batu besar dan pasir sehingga menjadi area yang sangat gersang.
10. Sungai Gendol
Lokasi ini juga mengingatkan akan kedahsyatan erupsi Gunung Merapi. Ketika terjadi erupsi, Sungai Gendol dilalui lahar panas sejauh 14 kilometer yang mengakibatkan kehancuran dan tertutupnya dusun-dusun di bawah Dusun Jambu dan Kaliadem. Kejadian itu juga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 200-an orang di wilayah Cangkringan yang hingga sampai saat ini sebagian belum ditemukan jasadnya.
11. Batu Gajah Kepuharjo
Batu yang sangat besar yang berasal dari lahar panas erupsi Merapi yang terletak di wilayah Desa Kepuharjo dan terletak di pinggir jalan yang menghubungkan antara wilayah Desa Kepuharjo dengan Desa Glagaharjo. Uniknya lagi, batu ini berukuran setara tiga truk besar dan menurut masyarakat setempat batu ini tidak dapat dipecah dengan alat apapun.
x

Gunung Merapi, Menggapai Puncak Gunung Paling Aktif di Indonesia


MerapiNews.com.-Malam belum sempurna menyentuh pagi, tatkala kaki ini melangkah merayapi pasir dan bebatuan. Halimun basah dan terpaan angin mencipta gigil dingin. Namun semangat kami tak surut. Perlahan namun pasti kami terus bergerak, berusaha menggapai puncak gunung paling aktif di Indonesia, Gunung Merapi.
Berdiri dengan tegak di utara Yogyakarta, Gunung Merapi seolah-olah memamerkan kegagahannya dan memanggil untuk dihampiri. Saya pun tak tahan dengan godaannya. Hingga akhirnya pada suatu sore yang cerah saya dan beberapa kawan pun memutuskan untuk menjawab panggilan Merapi. Setelah mempersiapkan rencana fun trekking sejak jauh-jauh hari, kami pun memacu kendaraan menuju basecamp Barameru di Selo, Boyolali.
Merapi, sebuah gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan air laut dan sempat membuat geger masyarakat disekitarnya pada tahun 2010 silam. Dimana pada saat itu Sang Mahaguru Merapi mengeluarkan lahar dan awan panasnya ke arah selatan dan memakan banyak korban jiwa. Bahkan Mbah Maridjan sang juru kunci pun turut menjadi korban terjangan wedus gembel yang meluluhlantahkan lereng selatan Gunung Merapi.
Bukan kali ini Gunung Merapi memuntahkan material vulkanik dan meluluhlantakkan permukiman warga. Hal itu sudah terjadi berulang-ulang dan memiliki siklusnya sendiri. Meski begitu masyarakat di sekitar lereng Merapi enggan berpindah dari kawasan tersebut. Bagi mereka Gunung Merapi adalah sosok ibu sekaligus mahaguru yang tidak bisa ditinggalkan. Usai erupsi, Merapi pasti akan menyuburkan ladang-ladang warga dan memberikan hasil yang berlipat ganda.
Gunung Merapi bukan sekedar fenomena alam. Ada kebudayaan dan kepercayaan yang tumbuh berimpit disana. Pantai Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang dihubungkan oleh sumbu imajiner. Masyakarat Jawa mempercayai bahwa Laut Selatan melambangkan elemen air, Gunung Merapi elemen api, dan Keraton adalah penyeimbangnya. Ketiganya dikenal sebagai trinitas kosmologi. Dan kali ini saya akan merayapi elemen api itu dengan segala keelokannya.
Pendakian Gunung Merapi Pun Dimulai


Para pendaki Gunung Merapi. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)
Sebelum memulai pendakian, kamu wajib lapor ke pos Barameru yang menjadi basecamp pendakian Gunung Merapi di jalur utara atau Selo. Selain jalur Selo, sebenarnya ada juga jalur pendakian lain seperti Deles (Klaten), jalur Babadan (Magelang), dan jalur Kinahrejo (Yogyakarta). Namun akibat lebatnya vegetasi dan juga erupsi 2006, jalur-jalur tersebut sudah tidak laik pakai. Sehingga jalur paling populer, paling aman, dan paling mudah adalah jalur Selo, Boyolali.
Selain lapor, kamu juga bisa repacking barang bawaan kamu, memesan makanan ataupun minuman hangat, dan mencari teman perjalanan menuju puncak Merapi. Selain itu, jika kamu membutuhkan jasa guide atau porter, kamu juga bisa minta tolong ke pada Mbah Min (pemilik rumah/base camp Barameru) untuk mencarikannya.
Jasa guide pendakian Merapi di bandrol Rp 300.000 dan jasa porter Rp 125.0000 dengan beban tertentu. Jika butuh trekking pole, perkumpulan guide Gunung Merapi juga telah menyediakannya. Cukup dengan Rp 15.000 untuk sekali jalan.
Setelah anggota tim lengkap, saya dan kawan-kawan mulai menata ulang barang bawaan dan melakukan pemanasan serta peregangan otot. Hal ini penting dilakukan ketika kita akan melakukan kegiatan yang membutuhkan kekuatan fisik dalam skala besar. Apa lagi ketika mendaki gunung seperti sekarang ini.
Tatkala jam digital menunjukkan angka 22.00 WIB, kami pun mulai bergerak. Jalur beraspal dengan kemiringan yang curam menjadi sambutan pembuka yang berat dan cukup mengagetkan. Nafas kami pun menjadi tersengal-sengal. Tetapi jalur beraspal ini kami jadikan proses aklimatisasi tubuh dengan suhu udara dan ketinggian di lereng utara Gunung Merapi.
Welcome sign dengan tulisan New Selo seperti di Gunung Lee, Griffith Park, Los Angeles dengan tulisan Hollywood-nya pun kami lalui. Sebelumnya kami sempat berhenti sejenak untuk mengatur nafas serta detak jantung yang mulai berpacu dengan hebatnya karena jalan beraspal tadi dan tebalnya kabut yang sedikit mengganggu pernapasan saat itu. Tak ingin berlama-lama. Kami pun meneruskan pendakian menuju Pos 1 Gunung Merapi.
Perjalanan dari welcome sign New Selo menuju Pos 1 kami tempuh sekitar 2 jam. Jalan yang tadinya aspal lebar berganti menjadi jalan setapak berbatu. Jurang di sebelah kiri jalan menemani perjalanan kami. Sesampainya di atas kami bertemu dengan kebun warga yang ditanami kol dan tembakau. Jalan setapak landai menjadi bonus perjalanan. Cukup untuk menghela nafas dan membenarkan posisi ransel kami. Setelah melewati ladang penduduk, ada gapura selamat datang bagi para pendaki Gunung Merapi dan hutan pinus yang lebat mengiringi perjalanan kami.
Jalur Pendakian Gunung Merapi Pos 1 – Pos 2
Dari Pos 1 ke Pos 2 kami memakan waktu sekitar 1,5 jam. Jalur ini didominasi oleh pepohonan kayu dan bebatuan dengan tingkat kemiringan tanah bermacam-macam, dari landai hingga terjal. Hati hati juga di jalur ini, karena di beberapa lokasi jalur berada di gigir jurang. Jika kamu melakukan pendakian di malam hari, persiapkan betul alat penerangan seperti senter atau headlamp supaya jalur pendakian terlihat jelas.
Jalur Pendakian Gunung Merapi Pos 2 – Watu Gajah
Dari Pos 2 ke Watu Gajah, kami memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sebenarnya terdapat dua jalur yang bisa digunakan untuk mencapai Watu Gajah dari Pos 2. Jalur pertama sedikit landai tetapi lebih jauh dan tembusnya setelah Watu Gajah, sedangkan jalur kedua lebih ekstrim karena memiliki kemiringan tanah hampir 50° dan didominasi oleh batuan vulkanik.
Di Pos Watu Gajah ini kami bersama rekan-rekan tidak mendirikan tenda, hanya bersembunyi di balik batu besar sembari memasak minuman menggunakan kompor lapangan. Saat itu bulan Juli, dimana bulan tersebut adalah bulan yang cocok untuk mendaki gunung di Indonesia karena cuaca sangat terang dan cerah serta minim hujan. Ketika melihat ke atas, taburan bintang berserakan menghiasi gelapnya semesta. Angin bergerak dari lembah menuju gigir, kadang perlahan dan kadang kencang. Suaranya menciptakan harmoni alam yang indah.
Taburan gemintang dan gugusan Bima Sakti serta langit yang tadinya biru gelap perlahan menghilang dan tergantikan oleh cahaya keemasan yang berasal dari ufuk timur. Samar-samar nampak Gunung Lawu menjelma siluet dan jutaan lampu kota Surakarta yang masih terlihat tegas sebagai foreground.
Di sisi barat, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Dataran Tinggi Dieng, dan Gunung Selamet juga nampak gagah karena terpapar bias sinar sang surya. Di sisi utara, jelas dan tegas terlihat Gunung Merbabu. Dan yang terakhir di sisi utara, sebuah gundukan batu besar nan gagah yang sering mengeluarkan isi perutnya ke berbagai penjuru dan sudah banyak memakan korban tetapi selalu di sayang oleh masyarakat sekitar, puncak Gunung Merapi.
Sebuah kombinasi sempurna yang sayang jika dilewatkan. Dari semua penjuru jalur pendakian Gunung Merapi, Watu Gajah merupakan tempat yang sempurna untuk menyambut pagi. Saya pun serasa enggan beranjak dari lokasi ini karena tak ada puasnya menikmati pesona lanskap yang tersaji.
Jalur Pendakian Gunung Merapi Watu Gajah – Puncak Gunung Merapi
Sebelum sang surya mulai meninggi, kami pun meneruskan langkah menuju Puncak Merapi. Dari Pos Watu Gajah ke Pasar Bubrah kami menempuh perjalan sekitar 40 menit. Jalur ini tidak terlalu sulit dan relatif landai tetapi sudah tidak ada vegetasi yang mampu menjadi penghalang angin.
Sesampainya di Pasar Bubrah kami beristirahat terlebih dahulu dan sesekali mengabadikan lanskap di sekitar. Ribuan tahun silam, Pasar Bubrah merupakan kawah utama Gunung Merapi. Kini kawasan ini berubah menjadi hamparan pasir dan batuan dengan ukuran yang sangat luas. Tiap 17 Agustus, kawasan Pasar Bubrah ini dijadikan lokasi upacara.
Dari Pasar Bubrah kami pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Merapi. Ada sedikit kemiripan dengan jalur menuju Puncak Gunung Semeru, yakni jalur pasir. Karena itu siapapun harus berhati-hati. Carilah pijakan yang kokoh agar kaki kita tidak terperosok atau terpendam di hamparan pasir. Jika tidak yakin dengan pijakan dan memang tidak ada pilihan untuk melangkah, alangkah baiknya merangkak agar aman. Jangan lupa untuk tetap memperhatikan atas ketika ada pendaki lain supaya bisa menghindari batu yang terlontar.
Setelah 1 jam mendaki dengan susah payah, kami pun mulai mencium aroma belerang yang cukup kuat, pertanda puncak semakin dekat. Ternyata benar, kami sudah tiba di puncak. Rasa lelah dan sakit di kaki akibat gesekan pasir yang masuk ke dalam sepatu serta berat beban di punggung membawa ransel hilang ketika melihat kawah Gunung Merapi secara langsung. Mengerikan, takjub, bangga dan semua rasa melebur menjadi satu di Puncak Gunung Merapi ini mengingat kejadian 2010 silam.
Lokasi dan Akses Gunung Merapi
Gunung Merapi terletak di dua provinsi, yakni di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada beberapa kalur pendakian yang bisa digunakan untuk mencapai puncak Merapi, namun pendakian yang paling populer sekaligus paling aman adalah pendakian dari Pos SAR Barameru (rumah Mbah Min), Dusun Plalangan, Desa Jlatah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Jika kamu berangkat dari Yogyakarta, kamu bisa melewati rute Jalan Magelang – Muntilan – Blabak – Ketep – Desa Jlatah (Basecamp Barameru).
Jika dari Boyolali, rute yang harus kamu lewati yakni Terminal Boyolali – Pasar Cepogo – Desa Jlatah (Basecamp Barameru).
Sedangkan jika kamu datang dari arah semarang bisa melewati rute Pasar Ampel – Pasar Cepogo – Desa Jlatah (Basecamp Barameru).
Tips Mendaki Gunung Merapi
Mendaki gunung termasuk dalam jenis kegiatan luar ruangan dengan resiko tinggi, karena itu kamu harus selalu berhati-hati dan mempersiapkan kegiatan pendakian dengan baik. Berikut ini ada beberapa tips yang sebaiknya kamu tahu dan kamu lakukan tatkala hendak mendaki Gunung Merapi.
·         Fisik yang prima merupakan salah satu kunci kesuksesan pendakian. Karena itu ada baiknya kamu mempersiapkan fisikmu seminggu sebelum pendakian. Peregangan otot dan jogging bisa menjadi olahraga yang mampu mengurangi resiko kram atau keseleo di bagian otot.
·         Pilihlah waktu pendakian yang tepat, semisalpada bulan Juni hingga Agustus. Pada saat itu tanah tidak terlalu berdebu dan pepohonan masih terlihat hijau.
·         Lakukan pendaftaran ke pos retribusi/pos pendakian Gunung Merapi yang sudah disediakan.
·         Bawalah perlengkapan pendakian sesuai standar dan bawalah pakaian ganti untuk mengantisipasi bila basah.
·         Gunakanlah sepatu trekking atau minimal sepatu olahraga. Disarankan tidak menggunakan sandal karena tidak bisa melindungi mata kaki dan pergelangan kaki dari hentakan maupun gesekan.
·         Meski kamu hanya berencana melakukan pendakian dalam waktu singkat, bawalah perbekalan air minum dan ransum yang mencukupi supaya tubuhmu mendapatkan energi. Lebih baik sisa dari pada kurang.
·         Bila merasa kurang yakin dengan kemampuan, ajaklah teman yang sudah berpengalaman di bidang pendakian gunung atau sewalah guide maupun porter lokal.
·         Jumlah minimal dalam satu grup pendakian adalah 3 orang, lebih banyak akan lebih baik. Pastikan diantara teman satu grupmu sudah ada yang memiliki pengalaman mendaki gunung khususnya Gunung Merapi.
·         Jika ingin mendirikan tenda, carilah tempat yang landai serta aman dari terjangan angin. Pastikan juga tendamu tidak menutup jalur yang dilewati oleh pendaki lain.



sumber: www.maioloo.com